PELAPISAN
SOSIAL DAN KESETARAAN DERAJAT
DOSEN : MUTIARA , SIKOM
ANGGOTA : ALDHYT
WIRANGGA
ALGHIFARI FIKRI .S
BASRUDIN AZMAR
MUHAMMAD NAUFAL LUTHFI
REZA NISAZKA
TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS
GUNADARMA 2015
Daftar Isi
Cover......................................................................................................... i
Daftar
isi.................................................................................................... ii
Kata Pengantar........................................................................................... iii
I Pendahuluan............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang…………………………….…………….….. 1
1.2 Tujuan pembahasan………………………………................. 1
II Pembahasan........................................................................................... 2
2.1 Pelapisan Sosial ………………............……………………. 2
2.1.1 Pengertian
Pelapisan Sosial..................................... 2
2.1.2 Terbentuknya Pelapisan
Sosial................................ 2
2.1.3 Sifat
Pelapisan Sosial.............................................. 3
2.1.4
Dasar-dasar pelapisan sosial................................... 4
2.1.5
Unsur-unsur Lapisan Masyarakat........................... 8
2.1.6
Lapisan-lapisan yang sengaja Disusun................... 9
2.2
Kesetaraan Derajat................................................................. 10
2.2.1 Pengertian Kesetaraan
Derajat................................ 10
2.2.2 Kesetaraan Derajat Di
Dunia.................................. 11
III Penutup............................................................................................... 13
3.1
Kesimpulan…………………………………………………. 13
3.2 Sumber Dan Daftar
Pustaka………………………………... 13
KATA PEGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Rab Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pelapisan
Sosial dan Kesetaraan Derajat ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di
dalamnya.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami
bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan kedepanya yang lebih baik.
Depok,
September 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah
perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang menempatkan seseorang
pada kelas-kelas sosial sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan
hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan
sosial lainnya.
Dalam hal ini, stratifikasi sosial terbentuk dengan
sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat. Pada dasarnya stratifikasi
sosial terbagi atas persamaan derajat yang dimiliki oleh suatu kelompok hingga
membentuk lapisan sosial di masyarakat.
Stratifikasi sosial sendiri memiliki sifat positif di
masyarakat, contohnya adalah stratifikasi sosial yang sengaja dibentuk untuk
tujuan bersama. Stratifikasi yang sengaja disusun untuk mencapai tujuan
tertentu biasanya berkaitan dengan wewenang dan pembagian kekuasaan resmi dalam
organisasi formal atau politik.
Akhir-akhir ini sering timbul pertikaian karena
perbedaan-perbedaan kecil yang sedikit menyinggung masalah sosial dan juga
kesamaan derajat. Maka kami sebagai mahasiswa memiliki bentuk kepedulian untuk
memberikan kontribusi ini minimal dengan menyusun makalah yang
berkaitan dengan berbagai pengetahuan akan Pelapisan Sosial dan Kesamaan
Derajat.
1.2 TUJUAN PEMBAHASAN
· Pemenuhan nilai tugas mata kuliah ilmu sosial dasar
tahun ajaran 2015/2016.
· Pembahasan lebih detail tentang pelapisan sosial dan
persamaan derajat.
· Mengetahui teori
pelapisan sosial dan persamaan derajat.
· Mengetahui dasar-dasar
pembentukan pelapisan sosial.
· Mengetahui tentang ciri-ciri
dari elite dan massa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PELAPISAN SOSIAL
PELAPISAN SOSIAL
Pelapisan sosial yaitu perbedan masyarakat kedalam
lapisan-lapisan tingkatan tertentu. Lapisan dalam masyarakat merupakan ciri
yang umum dan tetap dalam masyarakat yang hidup teratur, oleh sebab itu
penggolongan orang-orang tertentu yang masuk dalam lapisan-lapisan bertingkat
yang ditentukan oleh dimensi kekuasaan.
2.1.1 PENGERTIAN PELAPISAN SOSIAL
Pelapisan sosial adalah pembedaan atau pengelompokan
dalam suatu anggota masyarakat secara bertingkat, Setiap masyarakat senantiasa
mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentudalam masyarakat yang
bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentuakan
menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain.
Gejala inimenimbulkan lapisan masyarakat (yang membedakan posisi
seseorang/kelompok dalam kedudukan bertingkat)
2.1.2 TERBENTUKNYA PELAPISAN SOSIAL
Terjadianya
pelapisan sosial tebagi menjadi dua, yaitu :
Terjadi dengan sendirinya
Proses
ini terjadi karena pertumbuhan masyarakat itu sendiri, orang-orang yang
menduduki lapisan tersebut dibentuk bukan berdasarkan faktor kesengajaan dari
masyarakat itu sendiri melainkan terjadi karena proses alamiah yang disebabkan
oleh sifat, kebudayan, tempat, waktu, dan norma-norma yang berlaku.
Terjadi dengan sengaja
Dalam
pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas dengan menganut peraturan atau
tata tertib yang ada dan dengan adanya wewenang dan kekuasan tertentu. Proses
ini disusun secara sengaja oleh anggota lapisan-lapisan tertentu seperti
organisasi untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam sistem organisai
yang disusun secara sengaja ada dua, yaitu:
1.
Sistem fungsional
Sistem
fungsional itu sendiri merupakan pembagian kerja kepada tingkatan yang berdampingan
dan harus bekerjasama dalam kedudukan yang sederajat
2.
Sistem skalar
Sistem
sakral adalah pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari atas kebawah
dari sebuah organisasi atau masyarakat
2.1.3 SIFAT PELAPISAN SOSIAL
a. Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Pada stratifikasi sosial tertutup membatasi kemungkinan
berpindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain baik yang merupakan
gerak ke atas dan gerak ke bawah. Satu-satunya jalan untuk menjadi anggota dalam
stratifikasi sosial tertutup adalah kelahiran. Stratifikasi sosial tertutup
terdapat dalam masyarakat feodal dan masyarakat berkasta.
b. Stratifikasi Sosial Terbuka (Open Social Stratification)
Dalam stratifikasi sosial terbuka kemungkinan untuk pindah
dari satu lapisan ke lapisan lain sangat besar. Stratifikasi sosial terbuka
memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berpindah lapisan sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan bagi masyarakat yang kurang cakap dan
tidak beruntung bisa jatuh ke lapisan sosial di bawahnya.
Beberapa Teori
Tentang Pelapisan Sosial
Pelapisan masyarakat dibagi menjadi
beberapa kelas :
• Kelas
atas (upper class)
• Kelas
bawah (lower class)
• Kelas
menengah (middle class)
• Kelas
menengah ke bawah (lower middle class
2.1.4 DASAR-DASAR PELAPISAN SOSIAL
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan
pelapisan sosial adalah sebagai berikut.
• Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran
penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang
siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas
dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai
kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat
dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang
dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
• Ukuran kekuasaan dan
wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling
besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam
masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran
kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai
orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat
mendatangkan kekayaan.Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran
kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan
menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran
kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka
sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para
orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
• Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh
anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang
paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem
pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini
biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang
disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor
ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat
negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai
tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha
dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya
dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
Elite
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi II – 1995)
menyebut elite adalah “orang orang terbaik atau pilihan di suatu kelompok,” dan
“kelompok kecil orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawam,
cendekiawan dan lain-lain)”.
Sumber lain mendefinisikan elite adalah sebagai suatu
minoritas pribadi-pribadi yang diangkat untuk melayani suatu konektivitas
dengan cara yang bernilai sosial.
Golongan elite sebagai minoritas sering ditampakkan dengan beberapa bentuk
penampilan antara lain:
1) Elite menduduki posisi yang
penting dan cenderung merupakan poros kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
2) Faktor utama yang menentukan
kedudukan mereka adalah keunggulan dan keberhasilan yang dilandasi oleh
kemampuan baik yanag bersifat fisik maupun psikhis, material maupun immaterial,
merupakan heriditer maupun pencapaian.
3) Dalam hal tanggung jawab,
mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat
lain.
4) Ciri-ciri lain yang merupakan
konsekuensi logis dari ketiga hal di atas adalah imbalan yang lebih besar yang
diperoleh atas pekerjaan dan usahanya.
Dalam pengertian yang umum elite itu menunjukkan
sekelompok orang yang dalam masyarakat yang menempati kedudukan tertinggi.
Dalam arti lebih yang khusus dapat diartikan sekelompok orang terkemuka di
bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam istilah yang lebih umum elite dimaksudkan kepada
“posisi di dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial yang terpenting,
yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan aparat kemiliteran, politik,
agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas”.
Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak
elite. Contohnya : dalam masyarakat industri watak elitenya berbeda sama sekali
dengan elite di dalam masyarakat primitif. Di dalam suatu lapisan masyarakat
tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci atau mereka yang
memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kebijaksanaan. mereka itu
mungkin para pejabat, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan dan
lainnya lagi.
Dalam suatu kehidupan sosial yang teratur, baik dalam
konteks luas maupun yang lebih sempit selalu ada kecenderungan untuk
menyisihkan satu golongan tersendiri sebagai satu golongan yang penting,
memiliki kekuasaan dan mendapatkan kedudukan yang terkemuka jika dibandingkan
dengan massa. Penentuan golongan minoritas ini didasarkan pada penghargaan
masyarakat terhadap berbagai peranan yang dilancarkan dalam kehidupan masa kini
serta meletakkan,dasar-dasar kehidupan yang akan datang.
Golongan minoritas yang berada pada posisi atas secara fungsional dapat
berkuasa dan menentukan dalam studi sosial dikenal dengan elite.
Massa
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu
pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa
hal menyerupai keramaian, tapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam
hal-hal yang lain.
Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam
perilaku massal sepertinya mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa
peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang
tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers, atau
mereka yang berperanserta dalam suatu migrasi dalam arti luas.
Terhadap beberapa hal yang penting sebagian ciri-ciri yang membedakan di
dalam massa :
a. Keanggotaannya
berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang
dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat
kemakamuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka
sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti suatu proses peradilan
tentang pembunuhan misalnya melalui pers.
b. Massa
merupakan kelompok yang anonim, atau lebih tepat, tersusun dari
individu-individu yang anonim.
c. Sedikit
sekali interaksi atau bertukar pengalaman antara anggotaanggotanya.
d. Terdiri dari
orang-orang dalam segala lapangan dan tingkatan sosial.
e. Anonim dan
heterogen.
f. Tidak
terdapat interaksi dan interelasi.
g. Tidak mampu
bertindak secara teratur.
h. Adanya sikap
yang kurang kritis, gampang percaya pada pihak lain, amat sugestible (mudah
dipengaruhi)
2.1.5 UNSUR-UNSUR
LAPISAN MASYARAKAT
Kedudukan
(status)
Kedudukan
diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam kelompok sosial, kedudukan
juga di artikan sebagai tempat seseorang secara umum dalam masyarakat
sehubungan dengan pestisi, hak-hak, dan juga kewajibanya.
Peranan
Peranan
merupakan aspek dinamis kedudukan apaila seseorang melaksanakan hak-hak dan
kewajibanya sesuai dengan kedudukanya, peranan adalah perilaku yang diharapkan
oleh setiap orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu.
Peranan
dan kedudukan tidak bias dipisahkan sebab keduanya saling bergantung, Peranan
merupakan hal terpenting dalam mengatur perilaku seseorang, setiap orang
memiliki bermacam-macam peranan dalam pola hidupnya sesuai dengan pergaulan
orang itu sendiri.
Peranan
ditentukan dalam norma-norma di dalam masyarakat seperti seorang Dokter tidak
boleh mementingkan dirinya sendiri, tidak boleh mengiklankan diri sendiri, dan
tidak boleh menolak pasien. Didalam peranan terdapat dua macam harapan, yakni
harapan masyarakat terhadap pemegang peranan dan harapan si pemegang peranan
terhadap masyarakat, contohnya seroang dokter memiliki hak-hak istimewa dalam
masyarakat sebagai balasanya terhadap tugasnya.
Model Peranan
a.
Prescribed Role (peranan
yang dianjurkan)/PR yaitu peranan yang diharapkan masyarakat atau orang lain.
b.
Enacted Role (peranan
yang dijalankan)/ER yaitu peranan yang nyata atau keadaan yang sesungguhnya.
Ketidakselarasan antara PR dan ER sering terjadi akibat kurangnya pengertian, kesengajaan, dan ketidakmampuan
individu.
c. Role distance (Kesenjangan Peranan) yaitu menjalankan peranan secara
emosional, pelaksanaan peranan sering
disertai ketegangan atau tekanan psikologis yang terus berlangsung. Seperti, peranan wanita yaitu
ibu rumah tangga, pekerja, dan kuliah. Ketegangan terjadi akibat
ketidakselarasan antara kewajiban dan tujuan peran itu sendiri. Misalnya,
manager Rumah Sakit ingin meningkatkan mutu pelayanan tetapi menghadapi masalah
dalam kenaikan harga. Kegagalan peranan terjadi apabila setiap individu dalam
masyarakat mempunyai banyak peranan sekaligus kemungkinan adanya saling
bertentangan. Kegagalan peranan adalah suatu yang wajar. Konflik peranan
terjadi bila individu memiliki keanggotaan ganda dan dituntut untuk melakukan
peranan lebih dari satu sering menimbulkan ketidakserasian. Apabila seseorang
dengan status tertentu di kelompok yang satu, mengambil peranan lebih tinggi terhadap orang yang sama
dalam kelompok lain.
2.1.6 LAPISAN-LAPISAN YANG SENGJAN DISUSUN
Chester
I. Barnard (The Functions of Status System) membatasi diri pada uraian
tentang pembagian kedudukan dalam
organisasi formal yang di dalam masyarakat merupakan bagian- bagian yang
khusus. Ia mengatakan bahwa faktor-faktor yang terdapat di dalam
organisasi-organisasi itu selalu mempunyai timbal balik dengan keadaan di dalam
masyarakat luas, di mana organisasi-organisasi iu berada. Menurutnya, pembagian
kedudukan pada pokoknya diperlukan secara mutlak, agar organisasi tersebut
dapat bergerak secara teratur untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Sistem
berlapis sengaja disusun dalam organisasi formal untuk mengejar suatu tujuan
tertentu. Sistem berlapis timbul karena perbedaan kebutuhan, kepentingan dan
kemampuan individu seperti perbedaan kemampuan individu, perbedaan kesukaran
melakukan macam-macam jenis pekerjaan, perbedaan kepentingan masing-masing
jenis pekerjaan, keinginan pada kedudukan yang formal sebagai alat sosial atau
alat organisasi, serta kebutuhan akan perlindungan bagi seseorang.
Mobilitas Sosial
Mobilitas
sosial adalah gerak sosial, yaitu suatu gerak di dalam struktur sosial.
Misalnya, Seseorang dengan gaji Rp. 600.000,00 pindah kerja ke tempat baru yang
lebih besar gajinya. Prinsip umum gerak vertikal meliputi tidak adanya sisemt
berlapis yang mutlak tertutup dan tidak adanya gerak sosial yang sebebas-bebasnya
dalam sistem lapisan terbuka. Terdapat dua macam gerak sosial, di antaranya:
1.
Gerak Horizontal, yaitu
peralihan individu atau objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke
kelompok sosial lainnya yang sederajat yang akibatnya tidak menimbulkan
perubahan dalam derajat kedudukan seseorang atau objek sosial.
2.
Gerak Vertikal yaitu
perpindahan individu dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya yang
tidak sederajat. Terdapat dua arah gerak vertikal, yaitu:
a.
Naik (Social Climbing),
keadaan masuknya individu yang rendah ke kelompok yang tinggi, dan pembentukan
kelompok baru yang derajatnya lebih tinggi dari kedudukan individu-individu
pembentuk kelompok tersebut.
b.
Turun (Social Sinking),
keadaan di mana terjadi turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih
rendah atau sederajat. Turunnya derajat sekelompok individu-individu yang dapat
berupa suatu disintegrasi dalam kelompok sebagai kesatuan.
2.2 KESETARAAN DERAJAT
KESETARAAN DERAJAT
Pada setiap manusia itu adalah kesetaraan atau kesamaan
derajat yang di miliki oleh setiap manusia didalam hidupnya, pada dasarnya pula
manusia dari sejak lahir dibumi memiliki hak yang sama, Dimana hak Universal
Declaration of Human Right dalam artian
hak itu menjelaskan pula bahwa manusia yang sejak lahir dibumi memiliki hak
untuk hidup. Selain itu manusia juga mempunyai kesamaan atau kesetaraan derajat
yang sama di hadapan hukum tanpa harus membeda-bedakan dari sudut ekonomi
sosial, jadi setiap orang berhak mendapatkan perlindungan atau hukuman yang
adil di dalam hadapan hukum indonesia. Selain itu di dalam kehidupan sebenarnya
warga negara indonesia juga memiliki hak yang sama untuk hidup dan memiliki
perkerjaan yang layak untuk kesejahteraan sosial tanpa terkecuali.
2.2.1 PENGERTIAN KESETARAAN
DERAJAT
Kesamaan derajat adalah merupakan sesuatu yang bisa
dikatakan atau sesuatu yang selalu berhubungan dengan status. Kesamaan derajat
terkadang dapat membuat seseorang merasa menjadi lebih berwibawa, dan biasanya
orang yang mempunyai sifat seperti itu rasanya dia ingin selalu disegankan di
sekitar atau di lingkungan tempat tinggalnya. Sifat yang seperti ini sangat
tidak baik. Dalam hidup bertetangga kita jangan sampai mempunya sifat yang
seperti itu, karna itu akan membuat hubungan antar tetengga menjadi tidak
harmonis dan itu rasanya sangat tidak enak dan nyaman. Dalam hidup bertetangga
kita harus selalu tanamkan prinsip bahwa apa yang kita inginkan harus sesuai
dengan apa yang kita rasakan.
Cita-cita kesamaan derajat sejak dulu telah
diidam-idamkan oleh manusia. Agama mengajarkan bahwa setiap manusia adalah
sama. PBB juga mencita-citakan adanya kesamaan derajat. Terbukti dengan adanya
Universal Declaration of Human Right, yang lahir tahun 1948 menganggap bahwa
manusia mempunyai hak yang dibawanya sejak lahir yang melekat pada dirinya.
Beberapa hak itu dimiliki tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama atau
kelamin, karena itu bersifat asasi serta universal.
Indonesia, sebagai Negara yang lahir sebelum declaration
of human right juga telah mencantumkan dalam pasal-pasal UUD 1945 hak-hak azasi
manusia. Pasal 27(2) UUD 1945 menyatakan bahwa, tiap-tiap warganegara berhak
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 29(2)
menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya
itu.
2.2.2 KESETARAAN DERAJAT DI DUNIA
Hak, Persamaan Hak
dicantumkan dalam peryataan sedunia tentang Hak – Hak Asasi Manusia atau
University Declaration Of Human Right (1948), dalam pasal - pasalnya:
Pasal 1 (Sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak
yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan hendaknyabergaul satu sama lain
dalam persaudaraan)
Pasal 2 ayat 1 (Setiap orang berhak atas semua hak – hak dan kebebasan
kebebasan yang tercantum dalam pernyataan ini dengan tak ada kecuali apa pun,
seperti misalnya bangsa, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau
pendapat lain, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, milik, kelahiran,
ataupun kedudukan)
Pasal 7 (Sekalian orang adalah sama terhadap undang – undang dan berhak
atas perlindungan hokum yang sama dengan tak ada perbedaan. Sekalian orang
berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap perbedaan yang memperkosa
pernyataan ini dan terhadap segala hasutan yang ditunjukan kepada perbedaan
semacam ini).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
• Pelapisan social adalah
perbedaan dalam masyarakat yang masuk ke dalam susunan bertinkat atau seperti
kasta.
• Faktor-faktor yang
membentuk Pelapisan Sosial (Stratifikasi Sosial) adalah Kekayaan, Kekuasaan
atau Kewenangan, Kehormatan, dan Ilmu Pengetahuan.
• Sifat stratifikasi social
tertutup yaitu membatasi perpindahan lapisan social seseorang. Sedangkan
stratifikasi social tertutup memungkinkan seseorang berpindah lapisan sesuai
kemampuan yang dimilikinya.
• Kesamaan derajat adalah
kesamaan diri sendiri kepada orang lain
dan masyarakat, yang dinyatakan sebagai Hak Aasi Manusia.
• Elite adalah golongan
teratas atau menempati puncak struktur social yang terpenting dan mepunyai
keunggulan dalam pencapaian di bidang mereka.
• Massa adalah pengelompokan
menyerupai keramaian yang berasal dari segala tingkatan social dan berbagai
lapisan masyarakat
3.2 SUMBER DAN DAFTAR PUSAKA
Daftar Pusaka : Soekanto,
Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: PT.Rajagrafindo
Perkasa.
0 komentar:
Posting Komentar